Warga Kudus Songsong Ramadan dengan menggelar Kirab Mapak Wulan Siyam

Cerita Muria
Penulis: Cerita Muria
Dibaca 3 Menit

Kudus, ceritamuria.id – Ratusan warga Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengikuti kirab Mapak Wulan Siyam dengan mengarak Al Quran kuno dari daun lontar dan kulit kerbau yang konon peninggalan Sunan Kudus, Minggu (23/2/25) sore. Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan tersebut berlangsung meriah.

Pertunjukan barongan mengawali kirab Mapak Wulan Siyam yang artinya menyambut bulan Ramadan. Acara diikuti ratusan orang mengenakan pakaian khas adat Jawa dan berkain jarik khas adat keraton.

Bagi peserta pria mengenakan blangkon dengan setelan jawi jangkep hitam dan kain jarik. Sementara yang wanita menggunakan jilbab dan berkebaya.

Masing-masing dari mereka memakai busana dengan ciri khas yang berbeda sebagai lambang identitas kelompok. Selain dari masyarakat Kudus, acara juga diikuti paguyuban dari daerah Jepara, Pati, dan Demak.

Di barisan paling depan, warga membawa tandu yang diatasnya terdapat Al Quran kuno dari daun lontar dan kulit kerbau yang konon peninggalan Sunan Kudus.

Barisan kirab selanjutnya diisi dengan anggota paguyuban yang membawa payung dan replika keris berukuran raksasa. Selanjutnya ada pula kelompok yang membawa jajanan pasar dan urutan paling belakang ada barisan layaknya pasukan Jawa kuno yang melantunkan sholawat sepanjang jalan. Kelompok kirab tersebut diajak berkeliling desa sepanjang sekitar 2 kilometer.

Menurut penyelenggara, Kanjeng Raden Riya Arya Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro, kirab Mapak Wulan Siyam merupakan kegiatan rutin dalam menyambut bulan suci ramadan di Desa Margorejo. Tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga serta memperkenalkan kekayaan budaya Jawa kepada masyarakat luas.

“Mapak wulan siyam istilahnya mapak wulan Ramadan, menjelang bulan Ramadan kita mengirabkan Kirab budaya untuk mengenalkan ke masyarakat untuk memakai pakaian Jawi Jangkep mencintai budaya Jawa. Ini tidak hanya sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga sebagai ajang mempererat silaturahmi antarwarga Kudus dan sekitarnya,” ujarnya

Sementara Kepala Desa Margorejo, Sumrikan mengungkapkan acara kirab mampu menyedot  perhatian warga untuk menyaksikan secara langsung kirab tersebut. Menurutnya dengan adanya kirab ini menjadi nilai lebih bagi kebudayaan masyarakat setempat.

“Ini adalah kegiatan yang sangat positif, kita sangat mengapresiasi tradisi kebudayaan ini. Kita lihat, ratusan warga sangat antusias sekali mengikuti kegiatan disini,” katanya. Selain menggelar kirab, warga juga menggelar doa bersama menyambut datangnya bulan ramadan dengan melantunkan sholawat dan juga kidung puji-pujian.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *